Orang tua Mona dibunuh oleh Keluarga Perdana Menteri, sebuah perjanjian kerja paksa memaksanya menjadi pelayan terendah di rumah tangga tersebut. Seperti semut yang muncul dari lumpur, satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah memanfaatkan orang lain sebagai bidak, dan Dedy, Tuan Adipati, adalah pisau yang dipilihnya. Dedy memiliki kekuasaan, kebencian, dan ambisi. Mona menawarkan diri kepada Tuan Adipati, menggunakan intrik untuk mendapatkan kepercayaannya, dan tubuhnya sebagai alat tawar-menawar, perlahan-lahan membuat Dedy mengarahkan pisau ke Kediaman Perdana Menteri. Pada hari pernikahan mereka, sebuah dekrit menjadikan suaminya tahanan. Mona memutuskan hubungan dengannya, mencoba menggunakannya sebagai batu loncatan untuk bertahan hidup, tanpa menyadari kalau suaminya telah menyiapkan jalan keluar untuknya. Mona selalu menganggap dirinya sebagai pemain dalam permainan catur, tidak pernah bayangkan kalau seseorang akan rela menjadi bidaknya.