Kakakku, Jude Easton, sering bolos dan mulai berpacaran terlalu dini, tetapi orang tua kami justru mengirimku, anak berprestasi, ke Pusat Pembinaan Remaja, dengan dalih untuk memberinya pelajaran. Pada tahun pertama, seorang pembina memecahkan gendang telingaku. Tubuhku berlumuran darah, aku mencengkeram jeruji besi sambil minta pertolongan. Pada tahun kedua, pembina itu mematahkan kedua kakiku. Pada tahun ketiga, instruktur itu menyuntikkan hormon dalam dosis besar ke tubuhku. Tubuhku membengkak seperti paus. Instruktur itu menyeringai.
Jude berdiri di luar kurungan sambil memegang surat penerimaan dari sebuah universitas ternama. Seluruh keluarga tampak senang. "Willa, Jude diterima di universitas ternama. Tugasmu sudah selesai. Aku akan membawamu pulang."
"Siapa Willa? Mereka semua memanggilku Si Kerdil."