Introduction:
Setelah mengetahui bahwa pasangan Alpha-ku, Bruce, masih tak bisa melupakan mantan pasangannya, Fiona, dan anak mereka, aku mulai mengajari putra kami memanggilnya "Alpha Bruce". Saat putra kami demam, Fiona menelepon Bruce tengah malam dan memintanya datang. Kusentuh dahi putraku yang panas dan menyuruhnya berkata, "Selamat tinggal, Alpha." Ketika Bruce membatalkan pesta ulang tahun yang sudah dia janjikan pada putra kami karena Fiona menelepon sambil menangis, mengatakan bahwa putranya tak punya ayah, aku bahkan tak menoleh. Aku hanya menyuruh putra kami menjelaskan kepada para tamu, "Alpha ada urusan penting." Putra kami selalu terdiam ragu cukup lama. Sampai akhirnya Bruce sadar betapa besar kegagalannya pada kami. Dia mengusulkan agar kami berfoto keluarga. Namun, saat tiba di studio, Fiona kembali menelepon sambil menangis. "Bruce, bisakah kau datang dan pura-pura jadi ayah Tony? Anak-anak di penitipan terus mengejeknya karena dia tidak punya ayah…" Rasa bersalah melintas di wajah Bruce. Dia hendak berlutut dan menjelaskan semuanya kepada putra kami. Tapi kali ini, putra kami tak perlu menunggu isyarat dariku. Dia hanya melambaikan tangan. "Tidak apa-apa, Alpha Bruce. Pergilah temani anakmu yang lain. Aku dan Ibu sudah cukup untuk foto keluarga ini."
...More