Introducción:
Saat aku berusia tujuh tahun, seorang pria tampan yang dibawa Ibu ke rumah memberiku sekotak mangga. Hari itu, Ayah melihatku menyantap mangga-mangga itu dengan gembira sembari menandatangani surat perceraian. Lalu, dia bunuh diri.
Sejak hari itu, mangga menjadi mimpi buruk seumur hidupku. Jadi, pada hari pernikahan kami, aku berkata kepada istriku, Irene Johnson, "Kalau suatu saat kamu mau cerai, berikan saja aku mangga."
Dia memelukku tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sejak saat itu, mangga juga menjadi pantangan baginya.
Setengah tahun kemudian, aku kembali dari luar negeri setelah menyelesaikan kesepakatan bernilai 16 triliun. Di pesta perayaan, Irene menyodorkan segelas minuman kepadaku. Setelah aku meminum setengahnya, Steven, pria yang pernah dipecat dari perusahaan itu, berdiri di belakangku sambil menyeringai.
"Jus mangganya enak?" tanyanya.
Aku tetap memasang wajah datar, lalu mengangkat tangan dan menyiramkan sisa jus mangga itu ke wajahnya. Kemudian, aku berbalik dan pergi. Ada hal yang tidak pantas dijadikan bahan lelucon. Mangga adalah salah satunya, begitu pula keputusanku untuk bercerai.
...Más