Pengantar:
Menurut dokter, aku hanya punya tiga hari lagi untuk hidup. Aku menderita gagal hati akut, dan satu-satunya harapanku adalah mengikuti uji klinis eksperimental. Risikonya memang sangat besar, tetapi itulah satu-satunya kesempatan bagiku untuk bertahan hidup.
Sayangnya, suamiku, David, justru memberikan satu-satunya slot uji klinis yang tersedia kepada Emma, adik angkatku yang juga ibu baptis putriku. Padahal penyakit Emma masih berada pada tahap awal. Baginya, keputusan itu adalah pilihan yang benar karena Emma dianggap lebih pantas untuk hidup.
Tak lagi memiliki harapan, aku menandatangani surat penolakan perawatan dan memilih mengonsumsi obat pereda nyeri dosis tinggi yang diresepkan dokter. Aku tahu betul konsekuensinya, yaitu organ-organ tubuhku perlahan akan berhenti berfungsi hingga akhirnya merenggut nyawaku.
Aku hanya ingin tahu satu hal ...
Masih bisakah mereka tersenyum ketika akhirnya mereka tahu bahwa aku telah mati?
...Lainnya