

Marcello, ketua dari Keluarga Valence, mengidap PTSD. Dia bersikap dingin dan mendorong semua pergi. Tapi aku bisa dengar pikirannya. Aku tahu posesif yang tersembunyi di balik sikap dingin itu. Saat dia bilang, “Menjauh dariku, aku nggak mau lihat kau.” Yang dia pikirkan sebenarnya adalah Lilian, jangan pergi. Aku sungguh butuh kau. Enam tahun menikah dan aku terbiasa padanya yang nggak pernah serius pada perkataannya. Tapi malam ini, di perjamuan keluarga, asistennya berada di lengannya lagi, bukannya aku. Aku tanya Marcello, “Dia berdiri di posisi istri ketua. Kau nggak jelaskan tentang itu?” Rasa nggak sabar terlihat di wajah Marcello. “Kau 20 menit terlambat, Lilian. Kau nggak berhak mempertanyakan aku.” “Pergilah ke pojok atau pergi dari rumahku. Sekarang!” Beberapa saat kemudian, pikirannya terdengar olehku. Lilian, marahlah. tampar dia. Teriak bahwa kau istriku. Buktikan kau cinta aku. Aku mau merasa aman. Tapi kali ini, melihat senyuman di wajah semua orang, aku… lelah. Aku lepaskan cincin berlian yang menandakan aku istri ketua. “Karena nggak ada tempat buatku di sini, ayo cerai.” Waktu yang sempurna. Rumah sakit mengirimku bertugas ke London. Aku pergi besok.

Ranti Gunawan yang terkenal sebagai siswi pintar harus merelakan kuota beasiswa kuliah di bidang hukum untuk pujaan hatinya, dia pun menikah dengan pujaan hatinya, yang bernama Jimmy Mence. Akan tetapi, setelah 4 tahun lamanya menikah, Jimmy malah selingkuh darinya. Maka dari itu Ranti menceraikannya dan memulai lembaran baru dalam hidupnya, tidak hanya menemukan cinta yang baru tapi juga kehidupan kerja yang baru dia rasakan.

Menurut dokter, aku hanya punya tiga hari lagi untuk hidup. Aku menderita gagal hati akut, dan satu-satunya harapanku adalah mengikuti uji klinis eksperimental. Risikonya memang sangat besar, tetapi itulah satu-satunya kesempatan bagiku untuk bertahan hidup. Sayangnya, suamiku, David, justru memberikan satu-satunya slot uji klinis yang tersedia kepada Emma, adik angkatku yang juga ibu baptis putriku. Padahal penyakit Emma masih berada pada tahap awal. Baginya, keputusan itu adalah pilihan yang benar karena Emma dianggap lebih pantas untuk hidup. Tak lagi memiliki harapan, aku menandatangani surat penolakan perawatan dan memilih mengonsumsi obat pereda nyeri dosis tinggi yang diresepkan dokter. Aku tahu betul konsekuensinya, yaitu organ-organ tubuhku perlahan akan berhenti berfungsi hingga akhirnya merenggut nyawaku. Aku hanya ingin tahu satu hal ... Masih bisakah mereka tersenyum ketika akhirnya mereka tahu bahwa aku telah mati?

Aku didiagnosis mengidap lupus parah dan umurku hanya tersisa tiga hari. Saat suamiku menolak permintaan tolongku untuk yang ke-188 kali, aku membawa hasil tesku dan pergi ke pusat perawatan Hospice. Aku menjadwalkan kremasiku sendiri dan mengajukan bantuan pemerintah...