Pengantar:
Lima belas tahun lalu, aku tanpa sengaja menolong seorang bocah tunawisma yang tak mampu membeli bola. Aku memberinya uang dan sambil bercanda meminta 1% saham pendiri jika suatu hari bocah itu berhasil membangun perusahaan. Aku hanya ingin memberikan dorongan kecil agar sang bocah berani mengejar mimpinya.
Lima belas tahun kemudian, klub sepak bola yang kubangun terancam bangkrut. Tiga anak angkat yang kubesarkan mengkhianatiku demi merebut perusahaan, menguras uangku dan menghancurkanku. Para pemain menuntut gaji yang tertunggak, istriku sekarat karena penyakit mematikan, dan sahabat yang paling kupercaya memaksaku menyerahkan segalanya.
Aku menelan egoku dan melepaskan seluruh milikku demi menyelamatkan para pemain dan keluarganya. Tepat ketika semua orang mengira aku telah benar-benar tamat, iring-iringan mobil mewah dari sebuah konglomerat bernilai kuadriliun berhenti di depan rumahku.
Bocah tunawisma yang tadinya tak punya apa-apa, akhirnya kembali.
...Lainnya