

Malam sebelum percobaan pernikahan kami yang ke-17, suamiku sang mafia, Rafael Holloway, menatapku dan berjanji pernikahan kali ini takkan terganggu. Dia bersumpah serius. "Gianna, aku berjanji. Sudah kukatakan pada Natalia, walaupun badai menghadang, dia harus menghadapinya sendiri." Saat itu aku tengah hamil lima bulan. Setelah tiga tahun berpacaran dan lima bulan mengandung anaknya, kami tak pernah berhasil sampai ke pelaminan—sebab dia membatalkan 16 pernikahan terakhir. Setiap kali, selalu demi saudari angkatnya, Natalia Sullivan.

Setelah 88 kali pernikahanku batal, aku menghubungi rekan bisnisku memberi tahu bahwa aku akan ambil proyek pasar Havana. Setelah hening sesaat, rekanku membalas, "Serius? Itu berarti 10 tahun di luar negeri. Kau baru menikah, 'kan? Suamimu sudah tahu? Lalu, orang tuamu? Kau selalu ingin di dekat mereka." Aku menatap gereja yang kosong, lalu tertawa getir. Kataku, "Nggak ada pernikahan ataupun suami. Kalau orang tuaku, mereka sudah punya Cindy. Itu sudah cukup." Rekanku diam sesaat sebelum memintaku mengemasi barangku. Usai menelepon, kuusap gaun pengantinku. Setetes air mata jatuh dengan hening dan sia-sia. Hari ini, Cindy bersandiwara lagi. Dia mengancam akan bunuh diri. Andrew pun membatalkan pernikahan kami lagi. Aku menatap Andrew dengan lelah, lalu berkata, "Ini sudah yang ke-88 kali." Andrew menunduk, wajahnya dipenuhi rasa bersalah. Ucapnya, "Beri aku sedikit waktu lagi, Viv. Sejak diculik, kondisi Cindy buruk. Aku takut kali ini dia benaran nekat. Aku janji akan bicara padanya. Kali ini sungguhan. Setelah itu, kita menikah. Aku janji." Orang tuaku tanpa ragu memintaku melepaskan Andrew. Katanya Cindy nggak akan jadi seperti sekarang kalau dulu nggak diculik saat berusaha menyelamatkanku. Aku dikatai tega mempertaruhkan nyawa Cindy dan egois demi sebuah pernikahan. Kata-kata itu sudah terlalu sering kudengar. Dulu aku selalu membantah, tapi kali ini nggak. Kalau tunanganku dan orang tuaku nggak menginginkanku lagi, ya sudah. Aku akan pergi.

Sari Wijaya langsung jatuh cinta pada Cakra Laksa. Karena "nasibnya kuat", ia menikah dengan "penangkalnya", Cakra. Awalnya ia kira cinta diam-diamnya jadi kenyataan, tapi hati Cakra masih terpaut pada cinta pertamanya yang tak terbalas. Sari menyembunyikan perasaannya, berusaha keras memanfaatkan suaminya untuk bayar utang orang tuanya. Setelah cinta pertama Cakra kembali, ia terus-terusan memprovokasi. Sari akhirnya memantapkan untuk cerai dan mundur.

Malam sebelum percobaan pernikahan kami yang ke-17, suamiku sang mafia, Rafael Holloway, menatapku dan berjanji pernikahan kali ini takkan terganggu. Dia bersumpah serius. "Gianna, aku berjanji. Sudah kukatakan pada Natalia, walaupun badai menghadang, dia harus menghadapinya sendiri." Saat itu aku tengah hamil lima bulan. Setelah tiga tahun berpacaran dan lima bulan mengandung anaknya, kami tak pernah berhasil sampai ke pelaminan—sebab dia membatalkan 16 pernikahan terakhir. Setiap kali, selalu demi saudari angkatnya, Natalia Sullivan.

Mai Firgantara, seorang putri dari keluarga terhormat, menyembunyikan identitasnya demi hidup sederhana bersama suaminya, Sonny Indarto. Setelah berhasil mendapatkan pesanan bisnis senilai 2 triliun sebagai hadiah ulang tahun untuk suaminya, Mai justru diceraikan dan dihina. Sang suami bahkan mengklaim pesanan itu sebagai hasil perselingkuhannya. Tak tahan, Mai menandatangani surat cerai dan bertekad untuk bangkit membalas dendam.

Tiga tahun nikah sama Dominic, Gia, adik tirinya tiba-tiba ngirim aku satu video. Pas aku pencet videonya, isinya Dominic lagi ngikat adik tirinya ke tiang ranjang pakai dasi yang kukasih. Adik tirinya tiduran tanpa baju di bawahnya, manggil namanya dengan mesra. Setelah main gila, mereka saling peluk dan Gia nyender ke Dominic lalu bilang, "Aku nggak suka cincin yang kamu beliin. Kasih aja ke Luna dan bilang kalau itu kado ulang tahun darimu." Besoknya, aku duduk di restoran mewah sambil natap kursi kosong di seberang meja. Tiba-tiba, anak buah Dominic bawa kue besar. "Bos ada urusan mendadak. Saya disuruh nganterin kado ulang tahun Anda." Kotak itu isinya barang buangan bekas adik tirinya. HP-ku bunyi pas Gia kirim foto-foto baru. Dominic lagi di rumah sakit, nemenin Gia periksa kesehatan. Tanpa banyak omong, aku tanda tangan surat cerai dan mulai nyiapin acara pernikahan. "Nyonya, nama siapa yang harus ditulis sebagai pengantin pria dan wanita?" "Dominic dan Gia." Seminggu dari sekarang, bakal kutunjukin ke dunia kebusukan yang disembunyikan pria sok dingin itu sama adik tirinya.

Demi mengumpulkan uang untuk membelikan makam sang Ibu, mahar 500 juta yang diminta Sisil Lingga dipenuhi oleh pria yang ditinggal mati pasangannya, di hari pernikahan, wajahnya bengkak disengat tawon lalu menikah kilat dengan Theo Chandra yang wajahnya juga bengkak saat itu karena alergi serbuk sari dan sepakat untuk bercerai dua tahun kemudian. Dua tahun akhirnya tiba, kebetulan sekali Sisil magang di perusahaan milik Theo, terjadi salah paham yang membuat mereka melakukan hubungan badan, dan baru menyadari mereka sudah saling jatuh cinta sejak lama! Theo Chandra seorang bos pandai dan berwibawa tiba-tiba jadi bucin, dan mengejar cinta Sisil gila-gilaan! Sampai akhirnya Sisil hamil, dia baru mengetahui bos cerdasnya ini tidak lain adalah suami berjasanya! Setelah Theo tahu sekretaris Sisil adalah istri kilatnya, dia semakin jatuh cinta dan tergila-gila padanya... Di hari pernikahan, Sisil melihat sosok pria di hadapannya sambil berkata, Bos jadi suami rasanya luar biasa!

Yunita Sahara terbangun di dalam sebuah novel dan kembali ke era 1980-an—sebagai istri jahat yang ditakdirkan mati cepat, istri dari pria luar biasa yang lumpuh. Ia terikat dengan Sistem “Wanita Pendukung Jahat”. Syaratnya cuma satu: semakin jahat, semakin cepat bisa keluar dari cerita. Yunita pun pasrah: Penjahat? Bahkan anjing saja tidak mau memerankannya. Kalau begitu, biar aku saja! Dengan semangat penuh, Yunita mulai berbuat onar setiap hari, menikmati hidup sebagai “penjahat kelas atas”. Namun ia tidak tahu satu hal—seluruh keluarga bisa mendengar suara hatinya. Alih-alih hancur, keluarga itu justru makin rukun. Bahkan sang suami yang lumpuh bisa berdiri kembali… Ia hanya ingin hidup bersamanya.

Malam sebelum pernikahan kami, ibuku butuh uang muka darurat sebesar 750 juta untuk operasi. Aku menemui tunanganku, Mayor Adrian Hayes, berharap dia mau mendengarkan sebelum semuanya terlambat. Dia hanya melihat jumlahnya. Pada akhirnya, dia membayar uang muka itu, tetapi sesuatu di antara kami hancur malam itu. Uang itu menjadi awal dari setiap sebutan yang kelak dia gunakan untuk menyakitiku. Setelah itu, setiap kali aku meminta bantuannya, dia mengirimiku 1,5 juta. Delapan bulan lalu, aku mengetahui bahwa aku hamil. Aku mengiriminya 77 pesan suara, sangat ingin memberitahunya bahwa kami akan memiliki seorang bayi. Dia tidak pernah mendengarkannya. Dia hanya mengirim 77 pembayaran masing-masing sebesar 1,5 juta. Kemudian, ketika aku mulai mengalami pendarahan dan dilarikan untuk menjalani operasi darurat, aku menelepon Adrian dan memohon agar dia datang ke rumah sakit, menjawab pertanyaan dokter, dan menyelamatkan anak kami. Ketika Adrian akhirnya menyalakan kembali ponselnya, suara perwira stafnya bergetar. “Mayor Adrian... istri Anda dan bayinya tidak selamat.” Pada saat itu, Adrian mengamuk.

Aurora bersama kakaknya, Anna, melarikan diri dari suami abusif Anna. Tanpa sengaja, Aurora terlibat hubungan semalam yang membuatnya hamil. Saat hendak menggugurkan kandungan, Martin melamarnya dan membawa mereka tinggal bersama. Marco membantu Anna melepaskan diri dari jeratan pernikahan abusif. Seiring waktu, cinta tumbuh di antara mereka. Setelah melewati berbagai cobaan, keempatnya akhirnya menemukan kebahagiaan.